
Membincang film panjang pertama Kamila Andini ini (sebelumnya ia pernah menggarap video clip dan film pendek), umumnya selalu tak lepas dari sosok sang ayah, Garin Nugraha. Apalagi Garin juga menjadi produser film ini bersama Nadine Chandrawinata sebagai representasi dari WWF Indonesia. Begitu pula saya, sejak awal hendak menonton film ini, salah satu pertanyaan yang muncul dalam benak saya adalah “seberapa Garin kah film ini?”.
Bagi pecinta film, sosok Garin tentu menjadi nama penting di antara sineas-sineas Indonesia. Film-filmnya yang langganan penghargaan internasional mempunyai karakter yang khas. Pendekatan metafora yang membuat isi cerita sering susah dipahami, alur cerita yang mengobrak-abrik drama 3 babak, dan kultur lokal yang begitu kental. Hal inilah yang membuat karyanya seringkali kurang mendapat apresiasi dari penonton film di Indonesia yang terbiasa dengan film-film populis yang non-metaforik.
Kembali ke film The Mirror Never Lies (TMNL), rasanya aura Garin cukup pekat terasa dalam film ini. Pendekatan metafora menjadi ruh dalam merangkai cerita film. Tak heran jika di akhir film banyak yang bertanya-tanya “sebenarnya film tadi ceritanya gimana?”, pasalnya film yang didominasi shot lautan ini juga menjadi lautan tanda-tanda layaknya sebuah karya sastra klasik. Akibatnya, bagi yang tidak terbiasa dengan karya Garin akan kecewa dengan cerita TMNL, apalagi bagi yang menginginkan mendapat sensasi “perasaan terkoyak” pada klimaks film, jelas akan kecewa berat.












