Memasyarakatnya situs jejaring sosial, khususnya Facebook dan Twitter membuat kita dengan mudah menyuarakan pikiran kita yang kemudian dapat dengan langsung dibaca dan dikomentari orang lain. Sesuai dengan pertanyaan yang selalu muncul dalam Facebook, “What’s on your mind?”, kita (semestinya) bebas menyuarakan apa yang kita pikirkan. Yang lebih menarik, besarnya arus interaksi di situs tersebut memungkinkan kita membaca bagaimana pemikiran atau pola pikir orang lain.
Saya adalah salah satu pengguna Facebook yang suka melontarkan pernyataan (status update) “nakal”, dalam artian mengkritik sesuatu yang selama ini telah mapan dianggap sebagai suatu kebaikan. Contohnya, yang baru-baru ini saya kritik adalah penyeragaman jawaban anak-anak ketika ditanya “apa kabar?” dalam forum-forum anak. Saya tulis, “Anak-anak zaman sekarang, bahkan ketika ditanya apa kabar pun jawabannya coba diseragamkan”. Penyebabnya, saya merasa tergelitik ketika anak-anak sering dipaksa menjawab dengan “Alhamdulillah, luar biasa, Allhu Akbar!” saat sang pembicara menanyakan kabarnya. Padahal, dalam pikiran saya kabar seseorang adalah sesuatu yang sangat personal. Lanjut membaca