Disorientasi dan Ambiguitas Hari Kartini di Sekolah

Kemarin, seorang anak Taman Kanak-Kanak berusia sekitar 5 tahun bercerita bahwa sebentar lagi di sekolahnya akan merayakan hari Kartini. Lalu saya tanya apa itu hari Kartini, jawabnya adalah, “memakai baju Jawa”. Maka orang tua anak itu pun sekarang sibuk mencarikan persewaan baju Jawa. Keyakinan saya, hampir semua anak sekolah pasti juga mempunyai gambaran demikian tentang hari Kartini. Tidak mengherankan, karena tradisi yang ada sejak dahulu memang perayaan hari Kartini lebih identik dengan pemakaian baju daerah ke sekolah. Dalam benak saya lalu timbul pertanyaan, sebenarnya siapa Kartini itu? Pejuang emansipasi perempuan ataukah promotor penggunaan baju daerah?

Tidak berhenti di situ, setiap hari Kartini umumnya sekolah-sekolah tidak mengadakan pelajaran seperti biasanya, tetapi diganti dengan lomba-lomba antar kelas. Berdasarkan pengalaman saya dari TK hingga SMA, lomba-lomba itu mulai dari lomba kebersihan kelas, lomba bakiak, lomba memasak, dan lain-lain. Menariknya, ada pembagian lomba olahraga untuk siswa laki-laki dan lomba memasak untuk siswa perempuan. Artinya, perayaan hari Kartini seringkali justru semakin menguatkan konstruksi sosio-kultural posisi perempuan pada ranah domestik semata. Bukankah itu hal yang berkebalikan dengan semangat perjuangan Kartini? Lanjut membaca

By haqqihasan Posted in gender