The Mirror Never Lies: Sebuah Film Etnografis

Membincang film panjang pertama Kamila Andini ini (sebelumnya ia pernah menggarap video clip dan film pendek), umumnya selalu tak lepas dari sosok sang ayah, Garin Nugraha. Apalagi Garin juga menjadi produser film ini bersama Nadine Chandrawinata sebagai representasi dari WWF Indonesia. Begitu pula saya, sejak awal hendak menonton film ini, salah satu pertanyaan yang muncul dalam benak saya adalah “seberapa Garin kah film ini?”.

Bagi pecinta film, sosok Garin tentu menjadi nama penting di antara sineas-sineas Indonesia. Film-filmnya yang langganan penghargaan internasional mempunyai karakter yang khas. Pendekatan metafora yang membuat isi cerita sering susah dipahami, alur cerita yang mengobrak-abrik drama 3 babak, dan kultur lokal yang begitu kental. Hal inilah yang membuat karyanya seringkali kurang mendapat apresiasi dari penonton film di Indonesia yang terbiasa dengan film-film populis yang non-metaforik.

Kembali ke film The Mirror Never Lies (TMNL), rasanya aura Garin cukup pekat terasa dalam film ini. Pendekatan metafora menjadi ruh dalam merangkai cerita film. Tak heran jika di akhir film banyak yang bertanya-tanya “sebenarnya film tadi ceritanya gimana?”, pasalnya film yang didominasi shot lautan ini juga menjadi lautan tanda-tanda layaknya sebuah karya sastra klasik. Akibatnya, bagi yang tidak terbiasa dengan karya Garin akan kecewa dengan cerita TMNL, apalagi bagi yang menginginkan mendapat sensasi “perasaan terkoyak” pada klimaks film, jelas akan kecewa berat.

Lanjut membaca

By haqqihasan Posted in film

Sang Pencerah : Rasionalisasi, Modernisasi, dan Humanisasi Islam

Sang Pencerah adalah film biopik karya Hanung Bramantyo, sejarah-biografi dari seorang pahlawan nasional yang sekaligus pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Setting waktu cerita dimulai dari ketika Muhammad Darwisy (nama asli Dahlan) lahir pada 1800-an hingga ketika beliau mendirikan sebuah perkumpulan yang diberi nama Muhammadiyah (1912). Drama tiga babak dalam film ini mengangkat konflik Dahlan (diperankan oleh Lukman Sardi) dengan lingkungannya di Kauman Yogyakarta, utamanya dengan Penghulu Kamaludiningrat (Slamet Rahardjo). Konflik tersebut muncul karena Dahlan menyuarakan model keberislaman yang berbeda dari yang telah dianut oleh masyarakat secara turun temurun di bawah otoritas sang penghulu. Film ini sangat khas karya Hanung, di banyak shot dan adegan mengingatkan kita pada karya-karya Hanung sebelumnya, khususnya Ayat-Ayat Cinta dan Perempuan Berkalung Sorban.

Tiga Pemberontakan Sang Pencerah

Dahlan sepulangnya dari Saudi Arabia diceritakan pemikirannya banyak terpengaruh oleh Jamaluddin Al Afghani dan Muhammad Abduh, di mana tokoh-tokoh pembaruan Islam tersebut karyanya terlarang di lingkungan Kauman hanya karena diterbitkan di Paris. Keeksklusifan pemikiran Islam yang resisten pada apa-apa yang berasal dari non-Islam membuat kaum Muslim mengalami kemandegan. Hal itulah yang dalam film ini menjadi topik utama, bersamaan dengan keberanian Dahlan untuk melawan arus konservatisme itu. Dahlan berupaya mengajarkan Islam yang rasional (dengan dasar wahyu dan akal, antitesis dari Islam mistis), modern dan inklusif (mau menerima produk-produk non-Muslim untuk pendalaman ajaran Islam), dan pro kemanusiaan melalui tafsir praksis surat Al Maun. Lanjut membaca

By haqqihasan Posted in film